Banjarmasin Part 1:Best Outcome , Come out not from Jakarta
Saturday June 13th 2009, 19:31
Filed under: creative-writing

Banjarmasin, here I am sitting on a chair inside my room in a not-too-big- guesthouse. This is 8.23 PM now. I really apreciate with this city. You know, it is one of big cities in Indonesia.  This morning I visited floating market in biggest river here, Barito. So beautiful, a sheaf of traditional and simplicity of old-fashioned Indonesian.  How could I say, that I learn so many things here.  I am going with one of my friend’s family since last Friday. I feel warm here. Borderless. And met people with humane. You know, in Jakarta, seldom to find people with humane. They laugh, because they feel fun, not only because to pretend to become someone else. They smile, because they want. They ask me to join, because they want me to join. You know, everything that they do, comes from their heart. If they dont like, they said, they dont like it. So humane.

I feel comfort here. Like I am sitting with my mother,father,grandma,and brother. I just felt it because I am tired with Jakarta. In that post modernism city, I felt everything was pretending. Just to pretend. I dont know why, but when people smile at me, I just feel, that only for pretend.

If I could beg, I would like to stay out from Jakarta. But, think first thing. Yeah, this is my job. I will finish it,with my best outcome.

Thank you for reading.



Ngopi Di Warung Daeng
Friday March 06th 2009, 12:13
Filed under: creative-writing

Warung kopi Daeng Anas

Warung kopi Daeng Anas


Sore sebelum kembali ke ibukota, menyempatkan diri mampir di warung kopi a la makassar. Heran, tempatnya ditepi jalan raya,rame minta ampun,dan suasana panas tak ketulungan,tapi warkop ini penuh. Jangan salah, isinya bukan warga bawah,justru pengunjungnya orang2 menengah dengan tentengan laptop si apel putih,compaq dan handphone keluaran baru. Kata pak Bob, warung ini punya keunikan pada pola pengunjungnya. Kalau pagi, dipenuhi oleh pns dan para caleg, nah kalau sore,dipenuhi wartawan seantero makassar dan orang2 macam aku. Mereka berbicara dalam bahasa makassar. warung ini sangat berbeda dari warung kopi di kota lain,yang mengklaim dirinya sebagai kafe kopi. Dari sisi kenyamanan,jelas,ia tak menawarkan ruang sejuk,wifi dan musik bergaung, ia hanya memberikan asap rokok,riuh pembicaraan dan pengap,bercampur asap knalpot,tapi disitulah uniknya,tempat ini sangat akrab dan manusiawi sekali. Aku akan merindukanmu.



Untuk Dia yang Segalanya
Monday February 16th 2009, 15:02
Filed under: creative-writing

Setelah nekat ambil libur selama 4 hari, aku balik ke kantor lagi. Mukaku perih dan kakiku, pegel setengah hidup. Dua hari di rumah dan dua hari di jalanan, pakai motor. Liat bintang, liat lampu, liat ombak, liat hidup orang lain. Dan sebenarnya, hidupku itu penuh berkah. Mungkin dalam beberapa waktu, aku memang seperti orang jatuh, tapi kalau diperhatikan, hidupku ini sempurna, menurut aku. Apa yang kurang dari aku yang sudah diberi Allah? Yang ada, seharusnya aku yang memperbaiki diri. Menutup telinga untuk hal-hal yang tak baik, menutup mulut untuk hal-hal yang menyakitkan, dan membuka mata pada kemungkinan baru dalam hidup, apapun itu.

Aku bersyukur, apapun yang aku peroleh, aku telah memilih. Dan senangnya, Allah membantu aku untuk hidup seperti sekarang.

Aku berjanji untuk tidak memandang kecil kehidupan besarku. ^_^

Terima kasih Allah. Kau Segalanya!!



Terima Kasih Telah Menggunakan Fasilitas Telinga Saya
Tuesday February 10th 2009, 11:33
Filed under: creative-writing

Oalah, siang ini, seorang teman lama saya ngajak ngobrol lewat YM. Dia berkata begini

“Akhir-akhir ini dilihat dari status YM, aku mengkhawatirkan kondisi psikologimu loh Ma, kenapa?”

Kaget saya dibilang begitu. Saya jadi berpikir, apa benar orang-orang selama ini juga menilai saya seperti itu? Padahal, kalau saya runut, status di YM saya itu tak lebih dari guyonan.

Dan kemudian saya sadar, saya terlalu banyak mendengar, dan tak pernah membuka diri yang sebenarnya pada mereka, teman-teman saya.

Bahwa yang mereka baca dari saya adalah bukan saya. Dan mereka yang selalu menuntut saya mendengar keluhan mereka, ternyata masih terlalu sibuk untuk mendengarkan saya. Jadi, saya toh cuma kasihan pada mereka, belum punya waktu untuk saya, ya tidak mungkin saya paksa.

Pernah karena saking butuh pendengar, saya mau cerita, eh sudah keduluan mereka cerita, ada yang sambil ketawa, ada yang sambil nangis. Saya pikir, yasudah, kuping saya ini lebih banyak dibutuhkan dibanding mulut saya yang cuma menceritakan kesah diri sendiri.  Alhamdulillah, masih berguna buat sesama.

Terima kasih, teman. Luv ya all..

PS: tapi kalo diempet terus, mungkin bener kata teman saya diatas itu, kondisi kejiwaan saya bisa terganggu. Wong ya saya bukan manusia robot nan futuristik dje..



Ngobrol Saya Sama Tuhan
Monday February 09th 2009, 16:21
Filed under: creative-writing

Kata ibu saya di kota tua Yogyakarta, waktu itu hari kerja pada jam kerja. Ada antrian sangat panjang didepan sebuah gedung expo centre, yang ternyata sedang membuka Job Fair. Bursa Kerja. Ibu saya sampai berkeriut menahan tangis begitu melihat banyaknya anak manusia berjubel demi pekerjaan.  Dan dengan spontanitas luar biasa, ibu saya kemudian menelepon. “Nak, kamu jangan beranjak dulu dari tempatmu duduk sekarang ya, jauh diluar sana, jubelan manusia antri mendapatkan gaji. Syukuri yang kamu dapat.” , sudah itu saja kata ibu saya.

Dalam batin, jangankan diluar sana, didekat saya saja tidak cuma jubelan yang mengantri. Tapi jutaan anak manusia yang sehari sebelumnya ber-euforia merayakan pemakaian toganya, kini sedang tertunduk menenteng CV.

Saya sendiri selalu bersyukur atas apa yang diberikan Dia. Tentu saja. Dan saya tak bisa mengeluh seenak perut soal nasib saya yang sebenarnya bagus ini. Ini pasti jalan rejeki saya dan apapun yang terjadi, ini sudah ada dalam perjanjian saya dengan Dirinya saat saya merengek-rengek minta dilahirkan ke bumi. Dan saya juga sangat yakin, perjanjian waktu itu sudah pasti perjanjian paling indah,bagus,adil dan sempurna yang pernah saya lakukan. Dan Dia juga berjanji mau menjaga saya, jadi ya saat itu, saya senang senang saja mau dijebolkan ke ibu bumi.

Nah, sekarang,kalau saya menggugat Dia soal nasib saya, kok aneh rasanya.

Dia  menjawab “Lha dulu kamu tak tanya mau jadi begini, kamu manut saja, sekarang kok kamu protes?”..

“Lha saya dulu juga ndak tau gambarannya begini”, ujar saya nunduk malu.

“Makanya to, manusia itu tempatnya nafsu, buru-buru, dan sok butuh,berhubung kita sudah ttd, ya kamu harus nerimo, wong ya Saya njaga kamu kok, gitu kok repot”

“Iya, saya coba nerimo”, ujar saya masih nunduk

“lha bukan coba, tapi harus. Kalo kamu ndak nerimo, kamu bisa gila. Wong itu diluar kuasamu kok”

“Iya, saya harus nerimo.”, ujar saya masih nunduk tapi sudah setengah tegak

“yasudah, sana, kerjakan apa yang kamu bisa, ndak usah mengkhayal yang ndak-ndak, sekarang ini rejekimu, besok belum tahu, usaha saja, Aku kan pastinya bakal bantu kalo kamu itu mau usaha”

“Ya, saya tak usaha, usaha supaya badan beserta otak dariMu ini ndag sia-sia.”

“Ya sana, jangan lupa, bagi-bagi yang kamu punya sama orang laen, jangan kerja kalo cuma mau dapet gaji tapi hati mati”

“YA”, kali ini tidak nunduk, tapi semangat.



Ngobrol Saya Sama Tuhan
Monday February 09th 2009, 15:55
Filed under: creative-writing

Kata ibu saya di kota tua Yogyakarta, waktu itu hari kerja pada jam kerja. Ada antrian sangat panjang didepan sebuah gedung expo centre, yang ternyata sedang membuka Job Fair. Bursa Kerja. Ibu saya sampai berkeriut menahan tangis begitu melihat banyaknya anak manusia berjubel demi pekerjaan.  Dan dengan spontanitas luar biasa, ibu saya kemudian menelepon. “Nak, kamu jangan beranjak dulu dari tempatmu duduk sekarang ya, jauh diluar sana, jubelan manusia antri mendapatkan gaji. Syukuri yang kamu dapat.” , sudah itu saja kata ibu saya.

Dalam batin, jangankan diluar sana, didekat saya saja tidak cuma jubelan yang mengantri. Tapi jutaan anak manusia yang sehari sebelumnya ber-euforia merayakan pemakaian toganya, kini sedang tertunduk menenteng CV.

Saya sendiri selalu bersyukur atas apa yang diberikan Dia. Tentu saja. Dan saya tak bisa mengeluh seenak perut soal nasib saya yang sebenarnya bagus ini. Ini pasti jalan rejeki saya dan apapun yang terjadi, ini sudah ada dalam perjanjian saya dengan Dirinya saat saya merengek-rengek minta dilahirkan ke bumi. Dan saya juga sangat yakin, perjanjian waktu itu sudah pasti perjanjian paling indah,bagus,adil dan sempurna yang pernah saya lakukan. Dan Dia juga berjanji mau menjaga saya, jadi ya saat itu, saya senang senang saja mau dijebolkan ke ibu bumi.

Nah, sekarang,kalau saya menggugat Dia soal nasib saya, kok aneh rasanya.

Dia  menjawab “Lha dulu kamu tak tanya mau jadi begini, kamu manut saja, sekarang kok kamu protes?”..

“Lha saya dulu juga ndak tau gambarannya begini”, ujar saya nunduk malu.

“Makanya to, manusia itu tempatnya nafsu, buru-buru, dan sok butuh,berhubung kita sudah ttd, ya kamu harus nerimo, wong ya Saya njaga kamu kok, gitu kok repot”

“Iya, saya coba nerimo”, ujar saya masih nunduk

“lha bukan coba, tapi harus. Kalo kamu ndak nerimo, kamu bisa gila. Wong itu diluar kuasamu kok”

“Iya, saya harus nerimo.”, ujar saya masih nunduk tapi sudah setengah tegak

“yasudah, sana, kerjakan apa yang kamu bisa, ndak usah mengkhayal yang ndak-ndak, sekarang ini rejekimu, besok belum tahu, usaha saja, Aku kan pastinya bakal bantu kalo kamu itu mau usaha”

“Ya, saya tak usaha, usaha supaya badan beserta otak dariMu ini ndag sia-sia.”

“Ya sana, jangan lupa, bagi-bagi yang kamu punya sama orang laen”

“YA”, kali ini tidak nunduk, tapi semangat.



Jadi?……………akibat idle…………………..
Monday February 09th 2009, 14:52
Filed under: creative-writing

Lebih lama dari ini dan saya akan membeku. Hei, ini benar-benar kalimat yang bermakna.  Dari tadi pagi, saya sudah berkutat dengan ketikan tulisan orang yang kemudian saya edit. Dan sesiangan tadi, saya belajar ilmu elektro. Sekaligus GSM dan CDMA. Dan lebih lama lagi, saya benar-benar beku.

Entah bagaimana menyalurkan energi dalam badan saya kini. Rasanya makin tidak beraturan. Simpul neuron saya menyuruh indera saya untuk selalu bergerak, setidaknya mengeluarkan energi beberapa kalor.

Saya pernah kan, memposting tulisan tentang kekekalan energi. Dan lagi-lagi, saya masih membahas hal yang sama. Beberapa orang yang saya mintai saran mengungkap, bahwa saya harus lebih banyak bergerak. Tapi saran itu kurang relevan dengan fakta. Mengingat :

1. Saya sedang tidak bekerja (baiklah, saya memang tercatat sebagai karyawan, tapi sedang tidak ada pekerjaan (lagi) untuk saya )

2. Tipe kepribadian saya adalah sanguinis korelatif. Artinya, saya punya energi berlebih dalam badan saya yang cenderung ‘harus dilarikan’. Artinya, saya bisa menjadi sangat aktif atau sangat pasif yang akut. Dan sekarang saya sedang dalam proses sangat pasif karena terlalu lama tidak aktif. Terlalu lama = lebih dari 1 minggu

3. Indera yang saya pekerjakan saat ini demi berlangsungnya hukum kekekalan energi adalah : indera perasa (ngemil), indera penglihatan (lihat tulisan), indera peraba (mengetik), dan otak (untuk berpikir)

4. Dan saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya jika saya menjadi mahasiswa UNIVERSITAS TERBUKA. Cuma ada diktat, diktat, dan terakhir, diktat. Apakah universitas terbuka cocok untuk mata kuliah eksakta yang membutuhkan praktik? misal : kuliah kimia, dengan tugas membaca manual pembuatan bahan peledak tidak berarti anda sudah bisa dikatakan lolos praktek pembuatan bahan peledak.  jadi Jawabannya : tidak.

5. Saya putuskan, saya kedinginan dan harus melakukan sesuatu untuk mengusirnya. Membuat perapian, coret. Memasak mie dengan anglo, coret. Memakai jaket gunung, coret. Memakan (lagi),coret. Membuat kopi, coret. Memakai minyak telon, coret. Menembak rusa untuk makan malam, coret. Bekerja, lingkari dengan stabilo merah.

6. Jadi, apa yang harus saya kerjakan?



Mainan Masa Kecil Kalahkan Blekberi dan iPod, dan Pria..
Sunday February 08th 2009, 16:59
Filed under: creative-writing

Sore ini ke pasar mainan Cipinang. Tidak untuk membeli mainan keponakan, hadiah anak teman atau kejutan bayi tetangga. Tapi untuk membeli mainan bagi diri sendiri. ^_^. Janggal sih, menurut norma yang ‘entah diterapkan oleh siapa’ di masyarakat kita, anak wanita seusia saya (kepala dua coret), seharusnya bermain dengan anak, membelikan mainan, dan tidak membeli mainan untuk diri sendiri. Atau minimal, mainan saya sekarang setidaknya blekberi, PSP, iPod, laptop, hp qwerty, billiard, golf, mobil jazz, kosmetik, pria, dan bayi.

Tapi ternyata saya tidak memainkan semua itu, justru yang saya sedang mainkan sore ini adalah TAMAGOTCHI. See? Ingat? mainan tamagotchi. Adalah sejenis hewan peliharaan virtual yang memungkinkan saya menghindari kewajiban membaui dan membersihkan kotorannya secara visual.

Nah, saya sekarang punya ‘hewan’ SINGA. sekarang ia sedang tidur setelah saya banjiri dengan eskrim dan nasi. Dan setelah saya paksa berolahraga angkat barbel. Dan setelah pup, tentu saja.

Hewan marmut beneran pun tak akan sekuat bayi SINGA saya. Kalau saya bosan, bisa saya ‘reset’, matilah ia dan berubah menjadi pinguin, kepiting, gajah, panda atau hewan apapun yang bahkan dilarang oleh pemerintah untuk dipelihara secara pribadi.

Bahagia bukan main. Sejenak saya lupa beberapa masalah yang belum saya selesaikan. Dan sejenak saya merasakan saya kembali ke masa lalu saya saat kelas 3 SD, lengkap dengan ornamen kepingan kenangan dengan kakek nenek.

Dan bahagia saya. Benar-benar tertawa lepas.Dan masa kecil yang seakan sedang terjadi itu memang menyejukkan saya.

Luar biasa efek mainan masa kecil ini. Anda boleh saja memiliki mainan yang diklaim modern di jaman sekarang, dan melupakan gundu anda, lupa dengan mobil plastik , wajan kecil, boneka barbie, dan mainan lompat karet.

Dan lebih memilih mainan modern yang tidak lebih memanusiakan hati anda.

kalau anda bersedia menengok sedikit kepada mainan masa kecil anda, saya yakin anda akan mengalami hal yang sama. Bahagia yang terasa sangat wajar, bahagia yang tanpa syarat (harta dan tahta), bahagia yang sangat……………………………………………………………..

entahlah………………………………………………………….

NATURAL………………………………………………………



Hukum Kekekalan Energi Dilanggar, Depresi !
Saturday February 07th 2009, 15:06
Filed under: creative-writing

“Energi tidak dapat dimusnahkan, ia hanya dapat disalurkan”

-Hukum Kekekalan Energi -

Ini weekend yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Baiklah, sebenarnya ini weekend yang lebay. Jumat tadi malam saya terpuruk, lebih tepatnya mem-per-puruk-kan diri. Ada beberapa hal yang membebani hati.  Antara fungsi telinga saya yang terlalu banyak untuk mendengar dan mulut saya yang kurang sekali dimanfaatkan, makanya hati saya terbebani. Dan Sabtu pagi ini, saya bangun dengan kepala yang berat, padahal semalam tidak ada soda apalagi liquor yang mengaliri kerongkongan. Dan kepala berat itu tanpa saya sadari sudah memasuki area profesi saya. Dan pada jam 6 pagi itu saya sudah memikirkan kembali profesi saya saat ini. Yang masih saya pandang sebagai sebuah profesi gagal karena saya tidak mengabdikan diri pada sesuatu yang membuat saya lebih penting (menurut ungkapan pak Mario Teguh,thx pak).

Dan akhirnya, kaki terpaksa saya langkahkan keluar kos. Awalnya hanya untuk mencari kran air (oMG, bagaimana cara memperbaiki kran air yang patah?) dan tahu-tahu, sudah sampai di kerfur (tulis:carrefour). Tangan bekerja, kaki bertenaga. Ambil sana, ambil sini, lempar itu lempar ini. Tadaaaa..130 ribu untuk membeli makanan orang depresi. Makanan dan minuman sangat instan, cukup seduh air panas. Belum puas sampai disitu, saya keluar membeli risol sapi 2 biji, siomay,nasi rames,dan tralala.pizza hut (come on, cuma personal pan kok)..

Semangat menyala. Maksud saya, semangat untuk makan ^_^. Dan didalam kamar, saya kembali ke kamar mandi untuk memasang kran baru. Tak disangka, ternyata justru air yang melimpah menyembur. Basahlah saya. Tapi dasarnya sedang depressed, saya malah keramas dan mengguyuri badan saya. Rasanya benar-benar seperti mandi di pancuran super besar! SEGAR.

Setelah memboroskan air bersih dan gagal memasang kran baru, saya mulai ‘berlibur’ dengan potongan pertama pizza dilanjutkan dengan nasi rames, tahu goreng, siomay, jus sirsak, biskuit nabati, sepotong cuklat hitam dan musik setel maks.

Teman-teman kos saya menyapa dari luar, dan saya sedang tidak ingin jadi manusia baik yang selalu menyahut. Jadi saya diam saja. Ada yang bertanya tentang bed cover, saya jawab sekenanya dari dalam. Ada yang mengajak jalan-jalan, saya bilang sedang malas. Ada yang sedang menyanyi, saya makin semangat berkaraoke sendiri.

Saya cenderung tidak mau mendengarkan suara apapun selain suara saya sendiri ketika kondisi saya seperti ini.  Saya jadi menarik diri dari apapun termasuk kemungkinan bertegur sapa. Entah kenapa saya jadi seperti ini. Lalu saya runut kembali dan di hari sabtu ini saya berharap diri saya sendiri bisa menapaki halaman pertama penyembuhan hati. Inilah kisahnya;

Semasa saya sekolah, SMP dan SMA, energi saya cenderung berlebih. Saya ikut bermacam kegiatan. Mungkin orang berpikir saya takut sepi, padahal tidak seperti itu. Energi saya gunakan untuk melakukan banyak hal. Dan di kelas 3 SMA, saat semua murid bahagia karena tidak ada kewajiban untuk ikut kegiatan sekolah, saya jsutru yang paling bersedih, karena energi saya cuma habis di tempat duduk SMA dan bangku les.

Saya membenci rutinitas yang tidak mencerahkan, dan waktu kuliah, di semester pertama saya sudah mencoba melamar kerja. Pekerjaan pertama saya adalah operator warnet.  Sekaligus dalam waktu yang sama, saya juga anggota pers mahasiswa di kampus. Kemudian saya menjadi wartawan wisata, saat yang sama saya sudah menjadi anggota redaksi di Persma dan asisten laboratorium pemrograman. Kemudian puncaknya, saya menjadi content developer disebuah media online sangat ternama (det**.C*m, sekaligus menjadi pemimpin redaksi persma, asisten laboratorium, asisten dosen dan terakhir, sedang menyelesaikan skripsi dengan topik yang saya ambil secara acak yang kemudian membuat saya berpikir sepuluh ribu kali untuk menyelesaikannya,jaringan syaraf tiruan,benar2 bikin sarap.

Betapa gila kerja-nya saya saat itu. Dan saya berhasil menyelesaikan semuanya dalam waktu yang tepat, sangat pas. Dan mulailah saat benturan itu. Saya melepas semuanya. Saya lulus tugas akhir, saya wisuda dan kemudian, saya diam. Benar-benar bencana. Diam bagi saya adalah bencana. Dan hidup saya justru menjadi tidak teratur.

Saya mencari kerja sesuai norma yang berlaku. Bekerja untuk mencari uang. Padahal saya tidak ingin begitu. Kampus saya pernah mempekerjakan saya menjadi programmernya sekaligus jurnalis. Sebenarnya saya menyukai itu. Tapi tidak menantang, karena saya ingin keluar dari sarang saya yang hangat di rumah.

Dan tibalah hari itu. Hari ketika saya nekad mempertaruhkan ilmu saya dan beralih mempelajari hal yang sama sekali baru untuk saya, Transmisi. Transmisi yang saya tahu saat itu hanyalah, sesuatu untuk menyalurkan sesuatu yang lain. Intinya, saluran.

Dan kemudian, singkat cerita, pada Januari 2008, saya bergabung dengan sebuah vendor telekomunikasi Cina.  Saya tidak mengejar uang. Saya bisa mencukupkan hidup dalam kondisi materi apapun. Namun saya mengejar rasanya kehidupan. Tiga hari setelah bergabung, saya ditugaskan untuk melakukan sesuatu di 5 lokasi di Sumatera Barat.

Sekalipun saya bukan orang elektro seperti orang bilang, saya sudah cukup paham bagaimana bentuk sebuah kabel power dan cara kerja router (sampai saat tulisan ini ditulis, tidak ada satu pun rekan kerja yang tahu bahwa saya pernah ambil sertifikasi CISCO dan tahu bagaimana kombinasi command router yang salah)-semoga tidak ada yang membaca ini.

Lagi-lagi saya singkat, beberapa bulan kemudian saya selesaikan tugas di area timur Jawa, dan beberapa di area barat. Dan rasanya, setelah semua itu, saya seperti kembali ke titik nol. Saya kembali menjadi pengangguran berbayar.  Jengah. Saya tidak akan menyalahkan situasi ini. Saya tak ingin membicarakan orang lain. Energi saya terbuang.

Beberapa waktu ini saya membantu teman untuk membangun media online. Tapi saya tak begitu bersemangat karena sebenarnya, saya ingin energi saya juga tercurah untuk perusahaan yang membayar saya sekarang.

Kini saya sedang luntang lantung di kantor, mencari hal yang bisa memaksimalkan energi saya.

Saya bersyukur atas ini, namun juga jengah. Jengah karena saya punya kehendak untuk memajukan ilmu saya supaya mereka tidak rugi mempekerjakan saya, dan jengah karena saya belum punya kesempatan untuk belajar.

Hanya dengan keajaibanNya, saya mungkin bisa mengendarai sepeda motor hanya dengan membaca buku manual dari pabrik. ^_^

Dan itu cukup membuat saya membeli banyak makanan rongsokan, makanan berkolesterol, dan mengurung diri dari indahnya hujan ibukota.

Dan itu cukup, entahlah kapan akan berakhir.

Saya sangka, dengan bekerja, hukum kekekalan energi akan terus berlaku..ternyata tidak.

Dan hukum ini setahu saya akan terus dilanggar jika saya tidak memahami, bahwa energi kadang-kadang bisa dimusnahkan. Dalam beberapa kasus.

“pertahanan terbaik adalah serangan terbaik”..==>taken from Honeymoon with My Brother (franz Weisner’s book)



Pak Tua Penjual Tissue, Renta Tersia-sia
Friday February 06th 2009, 12:52
Filed under: creative-writing

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} !>

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras

namun kau tetap tabah…

Meski nafasmu kadang tersengal

memikul beban yang makin sarat

kau tetap bertahan”

Jarang ada lagu indah yang tercipta untuk ayah. Beberapa tercipta berisi hujatan anak pada ayah karena ia terlalu sibuk bekerja, sebagian mengutuk karena ayah tak merestui pacar sang anak, separuh mencecar perilaku kasar ayah pada si anak. Tapi jarang ada yang mendendangkan bagaimana perasaan sang ayah ketika ia terbuang oleh anak istrinya dalam sebuah kubangan penyakit.

Ia masih berdiri dalam hujan, payungnya boleh jadi hanya pemberian. Kakinya membiru, bukan karena dingin, namun karena keriut ancaman amputasi. Pagi yang dingin itu, tissuenya belum ada yang membeli. Sekalipun diatas tumpukannya ada karton bertuliskan “tissue untuk membantu lansia diabetes”. Fisiknya tak lagi terlihat gagah selayaknya lelaki. Guratan seorang pria terhormat masih tergambar dalam mimik wajahnya. Ia menderita.

Abdullah kecil adalah anak yang cerdas. Dilahirkan di kota Solo, ia mewarisi kesantunan khas Jawa. Pelan tapi pasti, ia melangkah untuk belajar yang mengantarkannya ke ibukota, menimba ilmu sekaligus materi. Sebuah perusahaan Amerika kemudian mempekerjakannya di tahun 1975. Materi yang ia terima membuat ia berani meminang wanita dari kotanya, Sumarni. Lukisan indah keluarga bahagia itu dilengkapi dengan hadirnya tiga buah cinta. Mimpi direntas dan dibentangkan. Dan, lampu pertunjukan perlahan mulai padam ketika Abdullah berusia 33 tahun.

Penyakit diabetes mengancam kehidupannya. Ia berusaha menyembuhkan dirinya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa kehidupannya mulai menukik tajam. Tabungannya dihabiskan untuk berobat. Dan puncaknya ketika perusahaan besarnya itu dengan terang-terangan memecat karena penyakit yang sebenarnya bukan kehendak Abdullah.

Bingar dunia melepas Abdullah begitu saja. Karena penyakit itulah, ia ditinggalkan istrinya, dalam kubangan penyakit dan ancaman keuangan. “Karena saya tak bisa memenuhi kebutuhan biologis, kasihan dia”, ujar Abdullah getir, mengingat semua perjuangan demi keutuhan keluarganya. Anak-anaknya pun tumbuh tanpa kesempurnaan pendampingan dari sang ayah bunda selaiknya keluarga lain.

Tahun berlalu, dan kini Abdullah tua sendiri menjadi penjual tissue di gerbang sebuah kawasan perkantoran megah. Terlihat kontras dengan lingkungannya yang dingin, ia selalu tersenyum hangat menjajakan tissue.”Anak-anak saya biarlah hidup sendiri, mantan istri saya juga sudah ketemu jodoh. Jualan tissue ini cukup untuk makan, membayar kos dan membeli obat. Setiap hari ada saja orang yang membeli tissue saya. Walau saya tahu, tissue yang mereka beli kemarin pasti belum terpakai. Alhamdulillah”

Dalam kamar kos kecil di Pancoran, Abdullah hidup sebatang kara. Tak ada sanak saudara. Tak ada pelipur sakit. Tak ada suara cucu yang biasa terdengar untuk kakek seusianya. Temannya adalah lampu neon 10 watt. Kasur tipis pelepas lelah. Dan botol-botol aqua satu liter teman dahaganya.

Menjenguknya bisa menjadi lara. Mendengar petuahnya seakan kaki menjadi baja yang menguat. Dan melihat deritanya, boleh jadi akan selalu ada lagu indah tercipta untuk ayah.

Tanpa hujatan, tanpa murka, tanpa hina. Bahwa ayah adalah lelaki dengan ribuan pasukan ketika anaknya terluka. Lelaki dengan ribuan tombak ketika anaknya terseret bahaya. Dan lelaki yang rela pergi ketika mereka yang ia cintai menginginkan ia pergi.

Dan inilah bait indah untuk Abdullah, pak tua penjual tissue…

“Titip Rindu Buat Ayah”…

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras

namun kau tetap tabah…

Meski nafasmu kadang tersengal

memikul beban yang makin sarat

kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari

kini kurus dan terbungkuk hm…

Namun semangat tak pernah pudar

meski langkahmu kadang gemetar

kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu

untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari

kini kurus dan terbungkuk hm…

Namun semangat tak pernah pudar

meski langkahmu kadang gemetar

kau tetap setia