Renungan Malam Minggu:Dilema Rusuk Bengkok Cari Wadah
“rasain lo,skarang brasa pentingnya kawin sis”…Weladalah,saya itu cuma rerasan sambil nyamleng pisang rebus je,malah disukurin. Temen saya di Jogja itu kalau nylekop alias komentar memang kurang terdidik. Bukannya solusi malah komentar basi. Tapi ya,saya kerasan sekali disini,tidak bermuka banyak. Dari komentar clekopan kurang EYD tadi,saya jadi tertanting.Sebenarnya tadi saya cuma rerasan kenapa ga ada yang bisa saya ajak nonton kethoprak. Nihil,smua teman menjawab sibuk dengan keluarga kecilnya.Jadi ingat,kalau separuh temanteman saya sudah jadi mother father. Dan saya masih asyik masyuk nyamlengi pisang rebus sendirian. Ini rerasan banyak wanita sendirian diluar sana,cuma kadang berhenti di rerasan,tak sampai tertuang di situs mikroblog macam FB. Sebenarnya sepi karena sendiri itu muncul waktu semua orang berlalu lalang menggandeng pasangan. Itu rasanya mirip ditusuktusuk jarum,tapi di hati,bukan dilambung. Lebih lagi kalau itu sampai diforumkan dalam acara makan malam keluarga. Waduh,biyung,itu seperti tlusupen,itu lho kemasukan benda tajam didalam daging. Nyeri. Yah,memang sudah kodrat homo sapiens untuk berpasangan,makanya kalau belum,bawaannya gelisah. Begini logikanya.Wanita itu pembawa potongan rusuk teratas pria,bentuknya bengkok. Nah si pria juga ga tenang kalau rusuk atasnya masih ilang satu. Alhasil mereka saling cari. Nah proses nyari sampai masang rusuk bengkok itu kan tak mudah to. Coba sekarang ada yang merasa saya membawa rusuk bengkoknya,lalu saya juga merasa rusuk yg saya bawa itu cucok sama si mas. Eladalah,pas dipasang,bengkoknya tak pas. Dilepaslah,dan cari lagi sampai ketemu yang pas. Itulah kenapa,ada banyak orang yang berasa gelisah waktu sadar rusuknya bolong atau gelisah karena bawa rusuk bengkok kemanamana. Saya juga gelisah kok,tapi daripada berkepanjangan,saya milih pemanasan makan bakso rusuk mataram duluan,sambil belajar ngepasin rasa rusuk di lidah..Enak lho..wis,malam mingguan itu ga ada,yang ada itu malam harian..ga usah resah apalagi nggresulo,kalo udah usaha ngepasin rusuk,nanti juga ada yang pas bener…sekarang kita makan bakso rusuk dulu…sampai jumpa ya..
Jogja, April 24, 2010 at 5:12pm
Filed under creative-writing | Comment (0)Mbak Siri di Televisi : “Berani bilang sudah”
“Percayalah, pria yang mencintaimu pasti ingin menyuarakan namamu hingga langit ketujuh dan bukan menyembunyikanmu dalam istana bawah laut”, pesannya.
Itu adalah sepenggal pesan dari seorang wanita yang pernah melakoni nikah siri hingga berbuah bayi.Kisahnya menyentuh dan banyak pesan kekuatan didalamnya.
Barusan lihat di TV, salah satu channel di Indovision. Ceritanya tentang isteri siri. Dia akhirnya bercerai setelah sebelumnya cek-cok dengan suaminya yang seorang direktur bank. Jangan berpikir sang suami ini sudah beristri resmi. Justru tidak, pasalnya suaminya ini adalah duda tanpa anak. Keren dan kaya pastinya, namanya juga direktur bank. Masih muda, sudah duda. Ia pernah menikah dua kali. Dan kandas.
ISteri siri ini adalah seorang karyawan biasa yang punya kisah cinta luar biasa. Awalnya si mbak siri ini -tidak pakai istilah Bunga,seperti korban perkosaan-, setuju menikah siri dengan sang pangeran karena saking cintanya. Memang sempat tercetus keinginan pernikahan normal pada umumnya,tapi pangeran tak mau karena merasa belum siap menjaga mbak siri.
Menikahlah mereka berdua pada suatu pagi,disaksikan oleh kedua orang tua mempelai dan beberapa saudara. Tidak ada teman, tidak ada sahabat yang hadir. Mereka tak satu pun yang diberi kabar apalagi diundang.
Waktu berjalan, sang pangeran seperti masih duda. Bepergian tanpa kejelasan. Dan hanya menyambangi mbak siri seminggu dua kali, sisanya adalah hari besarnya sendiri. Mbak siri yang merasa masih jadi pengantin baru sering menelepon pangeran. Cek cok dimulai saat pangeran ditelepon mbak siri saat sedang bermanja dengan seorang wanita didalam kantornya.
Sejak saat itu, jika mbak siri ingin berbicara atau bertemu pangeran di kantor, harus melalui saringan sekretaris pangeran.
Mbak siri juga mengeluhkan ketiadaan pangeran disisinya saat ia melahirkan,karena pangeran berkata ia sibuk. Kesibukan macam apa yang mampu mengalihkan suami dari isteri yang sedang sekarat memperjuangkan bayi mereka? Entah.
Akhirnya, mbak siri yang merasa menjadi orang tua tunggal sejak sang bayi datang, memberanikan diri untuk membuat keputusan bercerai. Cerai lewat telpon karena namanya juga siri.
Selesailah kisah mbak siri, kini ia sendiri berjuang hidupi dirinya dan sang bayi. Dan kemudian, ia bergabung dalam LSM dan menyuarakan pada para wanita untuk tidak terikat pada hubungan yang timpang. Ketika wanita yang tidak pernah diakui keberadaannya, ia menguatkan mereka untuk berani memutuskan mana yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Percayalah, pria yang mencintaimu pasti ingin menyuarakan namamu hingga langit ketujuh dan bukan menyembunyikanmu dalam istana bawah laut, pesannya.
“Trims mbak siri,so inspiring”..
Jakarta, April 29, 2010 at 7:10am
Filed under creative-writing | Comment (0)Kick Andy : Miracle of Love
Kick Andy sore ini, biasanya termehek mehek kalau human interestnya touchy banget,tapi sore ini bercucuran gara2 bahagia banget liat pasutri dengan kondisi istri yang berkebutuhan khusus. Ada yang tunanetra,polio,lupus,kerdil,sampai tuna grahita. Mungkin ini jenis cinta yang sebenarnya bisa disebut sejati. Kalimat suami mereka menjurus pada satu kata,kebahagiaan. Nafsu adalah manusiawi,makanya salah satu istri yang menderita lupus dan rahim diangkat,sempat bertanya pada sang suami untuk menikah lagi. Suami menjawab,bahwa itu mengada ada. Suami dari wanita tuna grahita berujar,kehidupan rumah tangga mereka adalah pelajaran cinta setiap hari. Sementara suami penari ronggeng kerdil mengaku,ia bangga pada istri mungilnya. Begitu dalam pengertian cinta didalam kehidupan para pasutri itu,jenis baru dalam kamusku,saat kebutuhan pasangan mungkin tak terpenuhi namun mereka tetap saling berdampingan. Mereka bahagia,tanpa saling menilai,mereka nyaman tanpa saling membesarkan yang tak dimiliki pasangan. Berapa jumlah pria atau wanita dengan kebesaran jiwa seperti yang mereka punya?Jenis cinta apa yang Tuhan semayamkan dalam hati mereka?Pertanyaan yang kuingin tau jawabannya,yang sampai saat ini,jenis cinta macam itu mungkin hanya hitungan jari. Di TV lain,pasangan kasmaran Anang Syahrini sedang panas panasnya didengungkan media. Kalau yang ini,tak usah dicari tau kenapa mereka berdua saling cinta. Lagipula kita sudah tau kenapa,kalau akhirnya mereka berdua menikah. Ada TV yang mencerahkan,ada juga TV yang …bikin oon…
Jakarta,May 2, 2010 at 5:11pm
Filed under creative-writing | Comment (0)Saat Aku Jatuh Cinta
when tears meet smiles.
Waktu itu medio Juli 2009,setahun lalu aku menemuinya hanya untuk kesekian kali. Ia nampak sama seperti yang kukenal sebelumnya. Ia hanya lebih dekat namun tetap tak mengizinkan siapapun menyentuhnya. Aku tak punya rasio untuk tidak mengindahkannya. Ada rasa yang rumit diketikkan kala ia kemudian memintaku mendengar sebuah lagu,tentang ia dan rasa hatinya. Pada sebuah hari besar,kami bertautan dan sejak itu,aku tahu ia akan jadi imamku. Nun jauh disana ia ada,kadang tak tersentuh,namun kadang sangat dekat. Ingin aku mengenalinya,tentangnya,dan dalam dirinya. Aku menyudahi petualanganku pada satu jiwa yang bisa menyatukan senyum dan air mata. Ia ada disana. Ia yang kala subuh tiba begitu dekat,ia dengan caranya berbicara yang membuat tawa,ia yang begitu dekat dengan banyak hawa,ia yang tak pernah bisa melakukan lebih dari 1 hal dalam 1 waktu,ia yang berempati pada yang menderita,ia yang fobia film horor,ia yang suka jamur,ia yang suka warna putih,ia yang..ia yang..yang tak pernah selesai. Cuma dia yang bisa membuat tawa dan tangis ada dalam satu makna. Ia seharusnya tahu betapa ia adalah orang yang sangat bermakna dan kaya.
Jakarta,July 11, 2010 at 5:36am
Filed under creative-writing | Comment (0)Jejak-Jejak Para Bujang
“Kita lari dari yang mencintai,tapi kita kejar yang dicintai. Sudahilah petualangan,kembalilah pada yang mencintai,belajarlah untuk mencintai,dan tinggalkan yang dicintai namun tak berkesudahan”
Kalimat resmi pembuka forum milis bujang *saya bukan member lho ya*. Saya mulai berasumsi bahwa pada suatu hari nanti,saya harus menyerah pada keadaan soal rumitnya menemukan tambatan hati. Sementara nun jauh di lereng pegunungan di barat Jogja, tersebutlah dua sejoli yang menikah selang beberapa hari setelah kedua orang tua mereka bertemu dan berbincang akrab sambil membicarakan harga cabai yang melambung. Jangan menebak ini sebuah prosesi lamaran. Ini adalah prosesi pertemuan anak gadis dan perjaka mereka, harap dipertegas,mereka sama sekali belum pernah bertemu.
Setelah si gadis mengangguk malu tanda setuju, dirembuglah prosesi adat selanjutnya, tak lain adalah pernikahan. Sangat sederhana dalam semua jejak yang mereka buat untuk melaju mulus hingga eyang penghulu dan para saksi berkata “SAH”.
Ironi sekali. Upacara mereka tak lebih dari hitungan hari. Dan hingga detik ini,nampak baik-baik saja. Si pria adalah petani yang ulet, sementara sang wanita adalah perempuan yang memilih karirnya diantara rumpun padi dan kandang sapi. Klop.
Dan di kota besar, jejak yang harus terjalin demi sebuah kata pernikahan rupanya lebih rumit daripada pola bintang satelit mengorbit dalam tata surya. Jejak itu sebuah emosi yang sarat ketakstabilan, dana yang tak sedikit terkucur, dua keluarga yang tak juga terjalin rapat, hingga hubungan yang hancur berantakan.
Apa daya bagi penghuni kota besar, kala hubungan mereka sudah terendam dalam banyaknya segi yang seharusnya hanya dua saja. Ia dan pasangannya.
Kini tidak lagi. Karena hidup di kota besar, seakan menjadi kewajiban untuk kemudian mengkompleks-kan diri. Jalinan cinta bukanlah antara aku dan kamu. Tapi antara aku, ini, itu, yang disana,yang disini, dan baru kemudian kamu. Lihatlah berapa segi disitu?
Terlalu banyak yang terlibat dalam sebuah hubungan, terlalu banyak alasan agar banyak yang terlibat, dan lihatlah efek sampingnya.
Saya bukan ahli hubungan. Saya adalah pengeluh yang kurang baik yang kurang suka mengeluh dengan membicarakannya di kafe kopi seharga makan sehari saya. Nantinya saya akan jadi terbiasa untuk bercerita sambil minum kopi mahal. Dan itu tak baik untuk orang yang sedang berjibaku di kota besar. Percayai saya.
Dalam kesadaran saya, seharusnya saya melihat hubungan adalah antara dua orang. Tapi nyatanya, saya tak melihat itu di kota besar ini.
Sampai pernah suatu hari saya terpikir untuk mengakhiri masa hidup saya di kota besar,dan memulai semuanya,dengan cara yang jauh lebih bijak dan sederhana di kota kecil,yang jauh dari kerumitan yang sengaja ditimbulkan oleh diri sendiri, dan hidup bersama seorang yang juga mengajari saya arti kesederhanaan. Dalam semua pola.
Sayangnya,hanya untuk mencapainya pun, saya harus lebih dulu mengurai jejak saya yang sudah seperti jejak milyaran meteor di Bima Sakti.
Sudah waktunya bagi kita,untuk membuat jejak baru, dalam genangan kerumitan jejak lama,tanpa kehilangan kendali atas kemanusiaan kita.
*Berat ya? Iya, notes ini memang berat, jadi baca sambil makan martabak dan ovaltine hangat sepertinya cukup membantu*
So, apa jejakmu?
Jakarta,July 26, 2010 at 7:53pm
Filed under creative-writing | Comment (0)Syukur Dini Hari : Pulpy Orange,Rumput Tetangga,Tempe Goreng,Diri Sendiri
Tiga Lebih Dua Puluh Sembilan waktu Dini Hari.
Pelajaran moral pagi ini adalah jangan pernah mencoba menyatukan silaturahmi antara kopi hitam dengan pulpy orange. Si jeruk pekat itu. Sekalipun kita sedang sekarat. Dan penyakit gila nomer 121 adalah terus mengulangi niat mulia tersebut meski 90 percobaan sebelumnya dinyatakan tidak memenuhi standar kesehatan manusia.
Pagi ini di jalanan sepi Bandung yang dingin setelah hujan, ternyata hanya sepi dalam hati saya. Nyatanya, banyak anak kecil terduduk di bahu jalan memunggungi orang tua mereka yang sedang memulung. Setahu saya, kegiatan pemulung hanya ada di Subuh hingga Isya menjelang. Ternyata lebih dini dari itu. Dulu sewaktu kecil, saya bahkan menganggap bangun pukul 5 pagi sudah merupakan kehebatan untuk anak seusia Sekolah Dasar. Dan yang saya lihat sekarang,’kehebatan’ saya itu tidak ada apa-apanya dibanding anak-anak pemulung ini.
Tapi saya tercenung kemudian, bukan karena miris seperti biasanya. Tapi karena saya sadar, saya tidak bersyukur atas keadaan saya ketika melihat mereka. Bukannya saya mengingkari nikmat yang saya punya, tapi saat itu saya justru sedang lupa pada apa yang saya miliki dan berkonsentrasi pada apa yang saya lihat. Saya menegur diri sendiri karena selama ini ternyata saya bersyukur dalam tipe yang tidak seharusnya saya miliki.
Jenis syukur yang tercipta saat melihat derita orang lain, syukur bukan karena apa yang kita miliki tapi karena melihat orang lain tidak memiliki apa yang kita miliki. Bisakah kalian rasakan dimana letak keganjilan rasa syukur yang itu?
Ya. Contoh. Saya bersyukur atas pekerjaan saya karena melihat banyak yang belum bekerja. Saya bersyukur bisa makan mekdi karena ada banyak orang yang baru bisa makan nasi kucing. Saya bersyukur punya barang yang saya ingini sementara banyak orang yang masih berjuang mendapatkannya. Lihat tidak, dimana letak keajaiban kata ‘karena’ yang mampu menerbitkan banyak sekali rasa syukur?
Kok saya inginnya begini, rasa syukur itu terbit dalam hati saya, bukan karena kata karena. Tapi karena saya memang ingin itu ada dalam diri saya tanpa harus melibatkan kepedihan yang dialami orang lain.
Sore ini juga saya mendengarkan sebuah siaran radio. Mas penyiar berkata, kita harus bersyukur karena dibawah kita masih ada orang yang lebih menderita. Kenapa ya saya merasa merinding mendengarnya. Semacam saya memanfaatkan kekurangan orang lain sebagai dasar rasa syukur saya?
Empati dan simpati adalah bentuk lain dari rasa syukur yang tidak harus tercipta karena memperbandingkan tingkat kebahagiaan yang dimiliki.
Duh,bagaimana ya menjelaskan, rasa syukur paling nikmat itu karena kita adalah kita,menjadi diri kita, menerima diri kita,dan tidak ‘tolah-toleh’ lihat rumput tetangga. Kalau itu bisa setiap detik ada dalam hati kita, saya yakin rasanya seperti hati itu disiram air es waktu panas terik. Dan itu yang kemudian bisa menerbitkan perasaan bahagia. Kalau orang bahagia, ia akan selalu berusaha membaginya dengan orang lain. Tidak peduli apakah orang lain itu ada dalam level kebahagiaan yang sama, lebih rendah atau lebih tinggi darinya.
Saya tidak sekadar menulis lho,tapi karena saya membuktikannya beberapa kali. Waktu saya merasa sangat nyaman menjadi diri sendiri. Dan itu rasanya semua beban memang tidak ada artinya dibanding kebesaranNya yang sudah Dia lekatkan dalam diri saya. Dan pada saat itu, berbagi adalah seperti hobi.
Mak Nyus. Walau mungkin kadang disertai rasa nyeri dalam diri kita, tapi kepuasan tercipta karena kita bahagia.
Contohnya ya itu tadi. Minum kopi hitam yang legit, dilanjutkan pulpy orange yang pekat, dan lalu berbagi tempe goreng dengan pemulung setengah waras.
Cobalah.
Wallahualam
Cuma berbagi,bukan menggurui.
Bandung,July 29, 2010 at 3:58am
Filed under creative-writing | Comment (0)Dari B3 Soetta Sore Ini
Lagi hoki bisa pulang kampung anti macet,makin hoki karena menunggu di B3 Soetta. Eh kebagian kue ulang tahun di ruang tunggu Soetta. Diatasnya dipajang lilin sebentuk 27. Mungkin usianya 27 ya?Atau bukan? Dan tibatiba ada pria baya muncul sambil menyanyikan lagu Dik nya Wali. Lalu sekelompok turis ransel asal Jerman menyanyikan lagu dalam bahasa mereka yang kira kira maknanya adalah hari gembira. Kata wanita yang berulang tahun tadi,sambil mata berkaca kaca,ini adalah hari jadinya yang terindah. Hari jadinya,adalah hari ulang tahun,ulang tahun pernikahannya dengan mendiang suaminya,yang ke 27. Penyanyi dadakan paruh baya tadi adalah sang adik. Dan selama sejam,kami semua di ruang tunggu B3 terasa melayang dalam emosi yang sulit dijelaskan. Rasanya memang tidak saling mengenal,bahkan saya optimis ini mungkin pertemuan pertama dan terakhir kami. Kemudian setelah mendengar kisah wanita tadi, seorang pria lain yg lebih muda kemudian maju dan menyanyikan Last Kiss nya Pearl Jam. Dan setelahnya ia bercerita mengapa lagu itu begitu bermakna. Kemudian tiba tiba,setiap orang yang membawa bekal mengeluarkan bekalnya dan berbagi. Saya bingung seperti tersihir,mungkin kalau manusia dikumpulkan dan tidak ada motif apapun dalam diri mereka selain kesadaran sebagai sama sama manusia,mungkin suasana ini yang akan selalu tercipta. Saya bingung,sempat tidak percaya manusia bisa begini berbagi. Hebat sekali kemanusiaan yang Tuhan tanam dalam hati manusia. Jadilah,waktu delay yang nyaris 2 jam tak lagi berasa. Will miss it.
Jakarta,August 6, 2010 at 7:21pm
Filed under creative-writing | Comment (0)Tasbihku yang Terputus
tak cukup cerdas untuk dipercaya
tak cukup pintar untuk ditanya
tak cukup mampu untuk dibagi
tak cukup segalanya untuk didiami
bahkan hanya berdinding materi
itukah aku
dalam kacamu?
lalu buat apa bertasbihkan bulatan janji
sehidup semati
tebaslah tasbih itu
secepat kau mampu
agar aku tak hanya retak
dan segera remuk
suatu hari
kelak kan kutahbiskan hidupku
pada satu hati
yang tak sempurna
namun ia sempurna
melihatku
dalam kemanusiaanku
Agustus 14,2010 @3.54 PM Solo
Filed under creative-writing | Comment (0)Banjarmasin Part 1:Best Outcome , Come out not from Jakarta
Banjarmasin, here I am sitting on a chair inside my room in a not-too-big- guesthouse. This is 8.23 PM now. I really apreciate with this city. You know, it is one of big cities in Indonesia. This morning I visited floating market in biggest river here, Barito. So beautiful, a sheaf of traditional and simplicity of old-fashioned Indonesian. How could I say, that I learn so many things here. I am going with one of my friend’s family since last Friday. I feel warm here. Borderless. And met people with humane. You know, in Jakarta, seldom to find people with humane. They laugh, because they feel fun, not only because to pretend to become someone else. They smile, because they want. They ask me to join, because they want me to join. You know, everything that they do, comes from their heart. If they dont like, they said, they dont like it. So humane.
I feel comfort here. Like I am sitting with my mother,father,grandma,and brother. I just felt it because I am tired with Jakarta. In that post modernism city, I felt everything was pretending. Just to pretend. I dont know why, but when people smile at me, I just feel, that only for pretend.
If I could beg, I would like to stay out from Jakarta. But, think first thing. Yeah, this is my job. I will finish it,with my best outcome.
Thank you for reading.
Filed under creative-writing | Comment (1)Ngopi Di Warung Daeng

Warung kopi Daeng Anas
Sore sebelum kembali ke ibukota, menyempatkan diri mampir di warung kopi a la makassar. Heran, tempatnya ditepi jalan raya,rame minta ampun,dan suasana panas tak ketulungan,tapi warkop ini penuh. Jangan salah, isinya bukan warga bawah,justru pengunjungnya orang2 menengah dengan tentengan laptop si apel putih,compaq dan handphone keluaran baru. Kata pak Bob, warung ini punya keunikan pada pola pengunjungnya. Kalau pagi, dipenuhi oleh pns dan para caleg, nah kalau sore,dipenuhi wartawan seantero makassar dan orang2 macam aku. Mereka berbicara dalam bahasa makassar. warung ini sangat berbeda dari warung kopi di kota lain,yang mengklaim dirinya sebagai kafe kopi. Dari sisi kenyamanan,jelas,ia tak menawarkan ruang sejuk,wifi dan musik bergaung, ia hanya memberikan asap rokok,riuh pembicaraan dan pengap,bercampur asap knalpot,tapi disitulah uniknya,tempat ini sangat akrab dan manusiawi sekali. Aku akan merindukanmu.
Filed under creative-writing | Comment (0)